13 November 2018 16:47:27 WIB

Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 54 Benni Warlis Berikan Terapi Massal Masyarakat Yang Berniat Berhenti Merokok

PADANG, KP - Sejak usia remaja telah menjadi perokok hingga bertahun-tahun lamanya. Meskipun telah dicoba untuk berhenti merokok, tetapi kebiasaan merokok atau mengehentikan kebiasaan merokok secara total sangat sulit. Apalagi, bagi seorang yang telah mengalami kecanduan. Karena kebiasaan merokok tersebut dirinya menderita batuk tidak ada hentinya. 

 

"Saya itu telah merokok sejak usia remaja hingga bertahun-tahun tidak berhenti merokok. Hingga gara-gara rokok saya pernah menderita batuk sampai berbulan-bulan lamanya," ujar Narasumber sekaligus Therapist, Benni Warlis saat melakukan terapi berhenti merokok secara massal di Aula Kantor Gubernur, Kamis (8/11).

 

Disebutkannya, merokok itu merupakan suatu kebiasaan yang pada akhirnya akan menjadi suatu karakter, di mana hal itu tidak terlepas dari sumber utamanya yakni pikiran. 

 

"Bayangkan saja sudah dilarang istri dan anak kebiasaan merokok saya belum juga hilang. Bahkan, tidak bisa dilarang untuk berhenti. Dan, sejak saya batuk berkepanjangan itulah saya berpikir untuk mencoba berhenti," ungkapnya yang juga merupakan Asisten II dilingkup Setdaprov Sumbar.

 

Makanya, kata Benni kebiasaan merokok itu susah untuk menghilangkannya jika tidak dari niat sendiri. Meskipun sudah mencoba-coba ingin berhenti jika tidak dari niat sendiri sangat susah pula.

 

"Intinya utama niat. Saya niatkan lalu praktekan, insyaallah sejak 2002 sudah tidak merokok lagi. Dan, itu saya ingin terapkan kepada semua orang dekat saya bahkan masyarakat baik itu memberikan pengalaman bagaimana saya berhenti merokok. Bahkan, dari sini saya belajar untuk memberikan terapi bagi masyarakat yang ingin berhenti merokok," katanya.

 

Dilanjutkan Benni, sejak 2010 dirinya sudah menjadi terapis bagui mereka yang ingin berheti merokok. Bahkan, dirinya di Payakumbuh biasanya dalam sehari pasien yang datang itu dalam sehari yang datang itu sekitar lima orang atau lebih.

 

"Sejak saya pindah kesini kan tidak begitu banyak yang tahu. Tapi jika di Payakumbuh sudah banyak yang mengetahui. Biasanya ada saja yang datang ingin berhenti merokok. Sehari itu bisa lima orang atau lebih yang datang pasien," katanya.

 

Untuk teknik terapi massal yang dilakukan saat ini baru yang pertama kalinya. Bahkan, dengan memberikan terapi massal ini sempat juga grogi jika tidak berhasil.

 

"Saya sempat deg-degan jika tidak berhasil, ini pertama kali melakukan terapi ramai-ramai ini biasnya sendiri-sendiri yang datang. Alhamdulilah, terapi massal ini berhasil. Tadi saya ada tanya peserta yang maju kedepan. Bagaiamana rasanya, pahit katanya. Jika sudah pahit rasa rokok insyaalah kedepannya kita berharap mereka dapat berhenti merokok," ungkapnya.

 

Sambungnya, terapi itu sederhana saja. Sehingga, dengan terapi yang dilakukan secara massal ini. Maka, peserta nantinya juga dapat melakukan terapi kepada yang lainnya. Dan, pengetahuan terapi berhenti merokok ini dapat tersebar ke seluruh Sumbar.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Merry Yuliesday mengatakan, kebiasaan merokok ini dapat berdampak kepada kesehatan. Bahkan tidak hanya dari sektor kesehatan tetapi juga ekonomi.

 

"Bayangkan saja, jika merokok sudah bertahun-tahun sejak remaja dan sekarang berusia 30 tahun. Berapa banyak penyakit yang disimpan gara-gara rokok itu. Sedangkan dari segi ekonominya berapa uang yang telah dikeluarkan. Penyakit dapat, duit pun habis jika kebiasaan merokok ini tidak dihentikan," ujar Merry.

 

Disebutkannya, dengan adanya terapis yang dilakukan secara massal ini guna menghentikan kebiasaan merokok ditengah masyarakat sangat positif. Apalagi, selama ini Dinkes Sumbar terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat bahaya merokok, bahayanya itu tidak sekarang. Namun kedepannya pasti dirasakan.

 

"Saat ini dalam terapi rokok ini kita mengundang semua Kabupaten/Kota. Maka, dengan terapi yang diadakan ini diharapkaan daerah juga melakukan event yang sama. Dan, juga mensosialisasikan bahaya rokok ini tidak hanya bagi diri sendiri namun orang lain disekitarnya didaerah masing-masing," katanya.

 

Selain itu, dirinya juga akan berkoordinasi dengan Satpol PP dalam menerapkan Perda No 5 Tahun 2012 tentang Kawasan Tanpa Rokok agar maksimal. Baik itu disekolah, gedung pemerintahan, sarana kesehatan, tempat penitipan anak dan lokasi lainnya.

 

"Kita akan lakukan aksi dengan Satpol PP. Kita akan razia bersama secara diam-diam," ulasnya.

 

kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Yozarwardi Usama Putra yang ikut serta dalam terapis tersebut mengungkapkan dirinya dahulu waktu masih kerja di swasta sempat menjadi perokoko berat. Karena, suasana kerja yang berada di tengah hutan. Namun, sejak diangkat menjadi PNS dirinya sudah berangsur-angsur berhenti merokok.

 

"Sejak jadi PNS. Saya sudah berangsur-angsur berhenti merokok. Apalagi, saya berada di dinas kehutanan yang notabene perlu stamina. Karena keluar masuk hutan. Dan sejak tahun 1998 saya total berhenti merokok," katanya.

 

Bahkan, sejak menjadi Kepala Dinas Kehutanan di Pasaman beberapa waktu lalu, dirinya melarang setiap yang berkunjung ke kantor untuk tidak merokok. Setiap ruangan hingga halaman kantor ditanami tumbuh-tumbuhan untuk mengimbangi rokok tersebut.

 

"Dan itu akan saya coba terapkan juga di Provinsi. Ini agar membuat kawasan itu terbas dari asap rokok. Saya harap dengan adanya terapi ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat," pungkasnya. (bob)

 

Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Merry Yuliesday memberikan cinderamata kepada Narasumber Benni Warlis usai melakukan terapi berhenti merokok secara massal di Aula Kantor Gubernur, Kamis (8/11).

Share Berita :